Membaca Makna dibalik Peresmian Empat Rumah Baca di Empat Taman Kota Pontianak

Rumah Baca di Taman Alun Kapuas

Isu literasi khususnya membaca beberapa tahun terakhir mendapat sorotan tersendiri dari publik dan pemerintah. Dimulai dari terpilihnya presenter kondang yang terkenal cerdas. Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia (2016-2020) berdasarkan seleksi dewan juri dan usulan masyarakat melalui laman online yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional RI. Di kancah regional Kalimantan Barat juga terjadi hal yang sama. Untuk pertama kalinya UPT Perpustakaan ‘merayakan’ hari kunjungan perpustakaan yang jatuh tiap tanggal 14 September dengan menggelar Kampanye Bulan Cinta Perpustakaan yang ditutup dengan perhelatan Kalbar Book Fair yang berhasil mendatangkan ribuan pengunjung dan pemilihan Duta Baca Kalbar untuk pertama kalinya.

Kota Pontianak selaku ibukota Kalimantan Barat juga tak mau kalah. Sutarmidji, Walikota Pontianak membangun empat rumah baca yang satu diantaranya khusus rumah baca digital (taman Untan-Polnep) di empat taman kota (taman Alun-Alun Kapuas, taman Digulis, taman Akcaya dan taman Untan-Polnep) yang menjadi fokus pembangunannya saat ini, yaitu memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) agar indeks kebahagiaan masyarakat meningkat. Empat rumah baca dibawah Perpustakaan Kota ini akan diresmikan hari ini (28/2). Continue reading

Advertisements

Pameran Buku Terbesar di Kalbar: Kalbar Book Fair 2016

kalbar-book-fair

Kalbar Book Fair 2016. Logo dan informasi ini menghentikan mataku disaat menelusuri kata demi kata di pamflet kampanye Bulan Cinta Perpustakaan. Pamflet ini aku dapat saat ikut diacara launching Bulan Cinta Perpustakaan 2016, 14 September 2016 lalu di Canopy Center, Purnama.

Bg Pay Jarrot, penulis buku Sepok Tige (baca: Review Buku: SEPOK Tige Pay Jarrot Sujarwo) mengirim pesan WA tentang launching itu. Honestly i’m very excited :). Kukira hanya diskusi biasa tentang dunia literasi kalbar, tapi ternyata aku salah. salah besar. Total ada kurang lebih 25 kegiatan yang berlangsung selama bulan September hingga Oktober. Dua bulan akan penuh dengan kegiatan -kegiatan seputar membaca dan perpustakaan. Continue reading

How to Master Your Habit: Bacaan wajib diawal tahun baru Islam

04unbox-xlarge1

How to Master Your Habit, karya seorang ustad mualaf yang cukup terkenal di Indonesia. Kamu tahu siapa orangnya ? Ya tepat sekali. Beliau adalah Ust. Felix Y Siaw. Buku ini bercerita tentang bagaimana kita selaku manusia bisa mengendalikan habit:kebiasaan kita sehari – hari. Tahukah kamu ? manusia sebetulnya secara sadar bisa membentuk kebiasaan baru jika kebiasaan tersebut di ulang – ulang sebanyak 30 hari berturut – turut.

Ust. Felix menjelaskan secara rinci mengapa kebiasaan itu penting untuk dibentuk dan dikontrol, trus bagaimana cara kebiasaan bekerja serta bagaimana juga kita bisa membentuk kebiasaan secara sadar. Karena sadar atau tidak setiap hari sebenarnya kita memiliki kegiatan yang berulang yang sama tanpa kita sadari lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan baru yang syukur – syukur kebiasaan baik. Nah, kalau kebiasaan buruk gimana ? Duh jangan sampai deh ya.

Diawal tahun baru Islam ini kayaknya kamu wajib deh baca buku ini, karena kita sudah sepakat kan kalau tahun baru Islam harus dimaknai sebagai ajang intropeksi diri dan hijrah menjadi insan – insan “baru” – Tahun Baru Manusia Baru. Alasan terkuatnya adalah Umar Ibn Khattab tidak mengambil patokan awal tahun Islam dari kejadian – kejadian yang kaku seperti tahun wafatnya Rasul dan lain sebagainya. Tetapi Umar mengambil awal tahun hijrah dari Mekkah ke Madinah yang menjadi awal penetapan tahun Islam yang sampai saat ini masih kita pakai dan semoga kedepan menjadi sistem kalender Nasional dan Internasional. Aamiin.

Spirit hijrah kaum muslimin saat itu diharapkan akan selalu ada disetiap pergantian tahun baru Islam. Spirit meninggalkan “tempat” yang buruk menuju tempat yang jauh lebih baik. Tempat disini bisa kita artikan dengan sifat – sifat tercela, maksiat, kebiasaan buruk dan lain sebagainya. Sehingga seharusnya di tahun yang ke 1438 H ini umat Islam sudah 1438 kali memperbaiki diri dan peradaban. Tapi sayangnya tidak demikian.

***

Balik lagi ke cerita buku How to Master Your Habit. Kata Ust. Felix dalam bukunya kebiasaan itu punya tiga dimensi. Tiga dimensi inilah pola yang membentuk sebuah kebiasaan baru dapat menjadi kebiasaan sebenarnya. Ada latihan, pengulangan dan rentang waktu.

“…habits dibentuk dari practice (latihan) dan repetition (pengulangan) dalam rentang waktu tertentu”
-hal 37-

Punya kebiasaan baru yang mau dibiasakan di tahun baru ini ? Ya, bagus. Pertahankan kebiasaan itu. Ingat, ia akan menjadi habits ketika diulang – ulang terus menerus dalam waktu kurang lebih 30 hari. Setelah itu maka otakn dan tubuh kita akan otomatis merespon kebiasaan baru tersebut sehingga tak perlu mikir lagi. Semuanya otomatis. Contohnya adalah berbicara. Bagi anak kecil, berbicara itu hal yang sulit. Tapi apa yang terjadi setelah ia lewati masa repetisi dan latihan bicara. Ya, mereka lancar dan tak perlu lagi mikir. Kalau mau bicara, bicara aja langsung. That’s the point.

Jadi sudah siap menjadi Manusia Baru ditahun ini ? Hapus kebiasaan burukmu dan ganti dengan kebiasaan baru. Oke.

FIM Siap Cetak Rekor Muri Penulisan Buku Serentak Terbanyak: 117 Buku dari 117 Penulis Selama 77 Hari

fim3

Tim FIM saat Berkunjung ke kantor MURI

“Setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang dalam berbagai bidang. Dunia literasi menjadi catatan penting majunya sebuah bangsa…”

~ Fakhrul Ar-razi –founder Forum Indonesia Menulis~

Forum Indonesia Menulis atau lebih dikenal dengan FIM. Sebuah wadah bagi  anak muda yang senang dengan dunia literasi-menulis dan membaca. Perlahan tapi pasti telah 5 angkatan anak muda yang siap menginspirasi dunia lewat pena dan tulisannya. SEMUA BISA JADI PENULIS menjadi “mantra” yang mendorong FIM tak berhenti mencetak dan mendorong dunia literasi lokal semakin menggeliat. Continue reading

Resensi Buku Biografi Singkat Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer adalah nama sastrawan yang tidak asing ditelinga para pecinta sastra Indonesia. Pram, begitu banyak orang memanggilnya adalah tokoh sastrawan yang khatam merasa seluruh rezim kepemimpinan di nusantara ini. Mulai dari rezim penjajah Belanda, Jepang, fase awal kemerdekaan (orde lama), orde baru hingga rezim reformasi. Pram menutup perjalanan panjangnya tepat diumur 91 tahun pada tahun 2006 lalu.

“Aku benar-benar telah menjadi broodschrijver, seorang yang menulis untuk sesuap nasi…mesintulis, modal kerjaku, rasa-rasanya minta ampun…Berkali-kali bila telah larut malam mamahmu memperingatkan agar aku tidur. Tapi aku hampir-hampir tak dapat mengelakkan godaan mesin tulis”

hal 103

Continue reading