Review Buku Room to Read

cover2bbuku2b2527room2bto2bread2527

Judul: Room to Read (telah di terjemahkan dalam 16 bahasa)
Penulis: John Wood (mantan eksekutif Microsoft)
Hal: 385 halaman
Penerjemah: Widi Nugroho
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2009
Rating: ratingratingratingratingrating

Sore ini aku habiskan waktu di sebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku yang tak sanggup pastinya kubaca semua sekalipun 24 jam duduk disini. Jendela tanpa tirai tak sanggup menahan cahaya senja tanda hari telah sore. Hari segera berganti malam. Semoga ada terang rembulan nanti.

Room to Read, Kisah seorang mantan eksekutif Microsoft, berhasil membuatku berkali-kali menarik nafas panjang pertanda kagum, terkesima, penasaran dan senang. Di bagian epilog dia mengaku sangat bangga dengan kerja Tim nya yang berhasil mencapai donasi buku yang kesejuta di negara pertama yang menjadi tonggak awal perubahan hidup nya. Nepal.

John Wood ini bukan orang Asia. Apalagi Nepal. Sebuah ‘pelarian’ dari rutinitas pekerjaan di Australia bersama Microsoft. Cuti kerja itu membawa nya ke lembar pegunungan Himalaya. Berkunjung ke sekolah dan tak sengaja masuk ke perpustakaan sekolah yang aneh. Aneh nya, tak tampak satu pun buku disana.

“saya bertanya tentang pendaftaran sekolah dan diberikan tahu bahwa di sana ada 450 siswa. Empat ratus lima puluh siswa tanpa buku. Bagaimana hal ini bisa terjadi di sebuah dunia engine buku-buku yang begitu melimpah?”

~Hal 13

Sejenak aku setuju sama pendapat John Wood. Bagaimana bisa? Pendidikan tanpa buku seperti berkembang dalam tempurung. Tak punya pengetahuan lain selain yang di lihat dan di dengar.

“…kepala sekolah memahami Ketakutan saya. Kalimat berikutnya akan mengubah arah hidup saya selamanya.

‘barangkali, Pak, suatu hari anda akan kembali dengan membawa buku-buku’. ”

~Hal 14

Ini yang menarik dari awalan buku ini. Pernyataan sepele yang punya daya ungkit besar. Dinamis dan terus terngiang di benar John Wood dan akhirnya di perjalanan pulang. Dia menulis sebuah E-mail penawaran-kali ini bukan soal bisnis-kepada semua relasi global yang dia miliki di kontak email. Isinya donasi buku fisik yang dikirim ke rumah nya di Colorado. AS, dan John Wood yang akan menanggung seluruh biaya pengiriman hingga sampai ke Nepal.

john-wood

John Wood bersama anak-anak di Nepal via hongkongvolunteer.wordpress.com

Dia Berhasil!!,. Setidaknya ada 3.000 buku berdasarkan Hitungan akhir ayahnya. Woody.

Aku terkesan dengan lamunan John Wood yang menarasikan bagaimana dulu ketika kecil buku mengubah hidupnya. Pengeluaran orang tua nya terpaksa besar karena kesukaannya membaca. Hingga akhirnya Woody, sang Ayah tak lagi membelikannya buku. Tapi malah sepeda.

Untuk apa?

Biar John bisa bersepeda ke perpustakaan publik terdekat. Dan berhasil. John bahkan berhasil merayu penjaga perpustakaan agar mengizinkannya meminjam lebih dari batas buku yang seharusnya.

***

Pengalaman kecil bersama buku itu yang kembali memecut John Wood untuk memberikan hak yang sama kepada anak-anak di kaki bukit himalaya, Nepal. Destinasi Wisata yang ia kunjungi melepas penat pekerjaan di perusahaan digital terbesar di dunia hingga saat ini. Microsoft.

Disanalah perjalanan Room to Read dimulai…


17:53 WIB @Ruang Referensi Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat

Advertisements

Refleksi Kritis 27 Tahun Milad Universitas Muhammadiyah Pontianak

self-reflection2bskills2btraining2bfor2bautistic2bchildren

Ilustrasi Refleksi

Oleh: Fadhil Mahdi*

(3 Oktober 2017, di sudut malam kota khatulistiwa)

3 Oktober adalah hari bersejarah. Milad Universitas Muhammadiyah Pontianak atau yang kini lebih akrab di panggil UM Pontianak. 3 Oktober 1990 dulu kampus biru ini diresmikan di Gedung Kartini. Perlahan tapi pasti kampus swasta milik Muhammadiyah ini berkembang pesat hingga mantap dengan rencana ekspansi ke kampus dua dengan total lahan puluhan hektar. Lengkap dengan maket yang terpajang rapi di lantai 2 gedung rektorat kampus UM Pontianak.

27 tahun sudah kampus biru ini berkiprah mencerdaskan dan mencerahkan mahasiswa. Dari perjalanan panjang itu tentu tak seluruhnya sempurna. Pasti ada celah yang harus diakui dengan arif-bijaksana dan diatasi dengan tepat. Memilih jumawa dan tak terima saran dan kritik guna menutup celah adalah sikap yang semoga tak melekat pada kader Muhammadiyah yang diamanahkan mengurus dan mengembangkan kampus biru ini. Continue reading

Menangkap Sajak: launching Buku Puisi Tentangku Naumi

naumi

Puisi. Bait-bait kata yang katanya penuh makna dan cerita. Tapi jujur sebenarnya aku bukanlah penikmat sajak-sajak yang bernama puisi. Bukan karna puisi itu jelek dan aku tak suka puisi. Tapi lebih karena aku belum paham bagaimana menikmati ini puisi.

Undangan kak Naumi Putih alias kak nike memaksa kaki ini melangkah ke launching buku kumpulan puisi miliknya. Tentangku Naumi judulnya. Dan ternyata aku baru sadar kalau sajak-sajak puisi ini ditulis sejak tahun 2011-2017. Aku yakin sedari awal penulis pasti ndak berniat ingin membukukan ini puisi yang berserak dibanyak media. Tapi ide membukukan kumpulan puisi ini sekaligus membukukan pengalaman dan serpihan waktu disaat puisi-puisi ini ditulis. Continue reading

Refleksi: Andai Rasullullah Masih Bersama Kita

khalid_ibn_al-waleed_battle_warrior_islam_sword_of_allah

IIlustrasi Peperangan

Dunia sedang dihebohkan oleh berita yang bertentangan dengan pri-kemanusiaan. Masyarakat sipil yang seharusnya dilindungi dari perang saudara yang sudah larut hingga 6 tahun belakang justru menjadi sasaran bidik tentara Suriah dibawah kepemimpinan Bashar Al-Assad.

Sebagaimana yang dilansir Tribun Pontianak (7/4) bahwa Bashar Al-Assad mengatakan tidak punya pilihan lain kecuali (mencapai) kemenangan karena menurutnya jika rezimnya tidak memenangkan perang ini, Suriah akan hilang dari peta. Continue reading

Adil Tak Selalu Sama Rata Sama Rasa

A $lodier's Dream HD Desktop Background

Ilustrasi Menggapai Asa

Fadhil Mahdi

Pagi itu matahari tampak malu. Sinarnya perlahan merayap diatas dedaunan jalan Siantan Hulu yang tepat berada ditepian kota Pontianak. Embun pagi enggan beranjak dari udara, menyejukkan dan menggenang diatas daun. Minal bersiap dengan seragam dan toganya. Berangkat menuju kampus tempat selama ini menimba ilmu.

Rasa haru dan bangga menyeruak setiba di tempat wisuda. Desau angin menemani hilir mudik keluarga mahasiswa yang tak lama lagi akan diwisuda sebagai sarjana dan pasca sarjana IAIN Pontianak. Canda tawa juga tampak diwajah – wajah para wisudawan dan wisudawati. Jepretan kamera berlomba – lomba mengabadikan momen sekali seumur hidup ini.

Minal adalah salah satu dari ratusan wisudawan dan wisudawati. Ia tercatat menyelesaikan studi 4 tahun 1 bulan di jurusan Pendidikan Agama Islam. Ditengah keterbatasan fisik, semangatnya tak pernah padam. Delapan semester dilalui. Setara mahasiswa rata – rata yang tak kurang satu apapun difisiknya. Minal yakin betul kalau fisik tak layak dijadikan alasan untuk diam. Continue reading