Resensi Buku Mustahil Miskin

buku-mm-e1483670514482

Judul: Mustahil Miskin
Penulis: Luqmanulhakim
Co-Writer: Abdul Qodir Jaelani
Hal: 223 halaman
Editor: Abdul Qodir Jaelani
Penata Letak: Harry Saputra
Penerbit: Galatamedia
Tahun Terbit: 2015
Rating: ratingratingratingratingrating

Sekilas:
“Mustahil Miskin tidak akan mengajari cara keyakinan dengan jala pintas dan instan, tidak akan mengajari cara berutang untuk memulai perniagaan, atau memanipulasi data untuk mendapatkan pinjaman bank ataupun kartu kredit, tapi mustahil miskin ingin mengajak kita keluar dari cara-cara ribawi yang justru mendatangkan banyak masalah baru yang jauh dari keberkahan, menawarkan sebuah cara dan teknik yang tidak biasa untuk keluar dari kemiskinan dengan langkah – langkah sederhana, yang mengandalkan penurunan tauhid dalam mengelola urusan finansial.”


Awalnya aku agak sedikit tertarik, catat ya, agak sedikit tertarik sama judul buku yang satu ini. Disana tertuliskan Mustahil Miskin Lepas Dari Kemiskinan Dalam 30 Hari. Judulnya bombastis dan menarik perhatian orang ketika membacanya sekilas. Aku mulai sangat tertarik untuk membacanya ketika mendengar kalau ya itu tadi. Bukunya sudah diseminarkan di mana-mana. Itu artinya ada something special di tiap lembaran buku ini dan pastinya ada value yang tak pernah akan habis energi nya sehingga bisa sampai cetakan yang ke 4.

Aku suka sama covernya yang eye catching dan desain layout nya yang berhasil mengusir rasa bosan dan letihnya mataku ketika membacanya.

***

Penulis mengawali tulisannya dengan membuka logika berfikir pembaca tentang hakikat harta yang sebenarnya. Fungsi harta, makna memaknai hidup, dua hal inilah yang paling sering dilupakan orang dizaman serba modern ini. Tak heran banyak orang yang tampaknya kaya dari luar tapi dia sendiri yang mengaku kalau sebenarnya dia miskin. Semua hartanya bukan sepenuhnya berada ditangannya.

Di lembaran awal penulis mengabarkan dua cerita sebagai pemanasan sebelum lanjut ke lembaran berikutnya. Salah satu judulnya adalah Ilusi Harta (baca ini juga: bit.ly/ilusiharta). Penulis bercerita lepas disaat sedang menempuh pendidikan S2 si Malaysia. Ada seorang saudagar kaya yang tiba-tiba saja mengundangnya di sebuah pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur. Penulis kenal betul siapa mereka dan bagaimana kekayaannya. Namun ternyata itu semua hanya Ilusi. Tidak satupun kata yang keluar dari mulutnya kecuali keluhan hutang yang menumpuk dan tidak harmonisnya mereka gara- gara hutang itu. Bahkan sebuah mobil mewah Mercedez Benz yang terparkir rapi di halaman sudah 6 bulan nunggak cicilan.

Lewat cerita ini penulis ingin menegaskan bahwa ternyata ada fenomena Ilusi Harta di sekitar kita dan bahkan mungkin pernah kita alami sendiri. Terjebak dalam euforia harta yang ternyata semua ilusi. Hanya sampai di angan – angan.

***

Sampai di lembaran ini aku terhenyak dalam diam. Dan bersyukur atas apa yang aku nikmati sekarang. Ternyata Oh ternyata banyak juga orang yang tampaknya kaya tapi tidak bahagia. Tapi banyak juga orang yang hidupnya sederhana namun selalu bahagia dan tidak merasa tertekan dalam hidup.

***

Di lembaran berikutnya penulis semakin dalam membahas tentang harta, kesusahan hidup, dan apa penyebabnya. Penulis nampaknya ingin menegaskan juga kalau tujuan hidup hakiki itu bukanlah seberapa banyak harta yang kita miliki tapi seberapa bahagianya kita dengan seberapapun harta yang saat ini ada pada kita. That’s the point!.

“Allah menciptakan tertawa dan sedih, mematikan dan menghidupkan, laki-laki dan perempuan, Kekayaan dan… “

Kira – kira apa jawaban yang tepat? Kemiskinan?
Salah!, bukan kemiskinan. Tapi KECUKUPAN

“dan sesungguhnya Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan”
– An-Najm: 48

Jadi sebenarnya tidak ada orang yang beriman yang miskin di muka bumi. Yang ada hanyalah mereka yang MERASA MISKIN. Ya, mereka merasa miskin. Merasa serba tidak cukup dengan harta yang ada.

“jika seandainya miskin itu berwujud manusia, niscaya aku yang akan membunuhnya”
– Ali Bin Abu Thalib

***

Total ada 13 chapter dalam buku yang tidak begitu tebal ini. Dari kesemua chapter ada satu yang paling berkesan bagiku. Judulnya Hak Milik vs Hak Pakai.

“definisi kepemilikan benda ini menjadikan manusia punya sense of belonging atau perasaan memiliki yang tinggi terhadap suatu harta benda. Hingga ketika harta dan benda tersebut hilang maka seketika manusia menjadi sedih”
– hal 50

***

Dan yang menjadi inti dari buku ini ada dihalaman 89. Judulnya sama persis dengan judul buku. Mustahil Miskin. Chapter ini berisi tentang tadabbur QS.Faatir: 29. Inilah “dagingnya”. Tadabbur ala ust Luqmanulhakim di chapter ini sangat terasa. Gaya kupas dan tutur yang khas, ringan dan mudah dicerna karena selau diumpamakan agar orang lain mudah untuk berfikir.

“Sesungguhnya orang – orang yang selalu membaca AL-QUR’AN & mendirikan SHALAT dan MENGINFAQ-kan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan pernyataan yang tidak pernah merugi”
– QS. Faatir: 29

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s