Menangkap Sajak: launching Buku Puisi Tentangku Naumi

naumi

Puisi. Bait-bait kata yang katanya penuh makna dan cerita. Tapi jujur sebenarnya aku bukanlah penikmat sajak-sajak yang bernama puisi. Bukan karna puisi itu jelek dan aku tak suka puisi. Tapi lebih karena aku belum paham bagaimana menikmati ini puisi.

Undangan kak Naumi Putih alias kak nike memaksa kaki ini melangkah ke launching buku kumpulan puisi miliknya. Tentangku Naumi judulnya. Dan ternyata aku baru sadar kalau sajak-sajak puisi ini ditulis sejak tahun 2011-2017. Aku yakin sedari awal penulis pasti ndak berniat ingin membukukan ini puisi yang berserak dibanyak media. Tapi ide membukukan kumpulan puisi ini sekaligus membukukan pengalaman dan serpihan waktu disaat puisi-puisi ini ditulis.

Pembaca puisi membacakan puisi silih berganti. Suara sajak-sajak indah menggema disekat-sekat dinding Masjid Kapal Ampera. Disesaki anak adam penikmat pembaca puisi.

Kami Ada, saya anda kita semua. Sahabat Nabi Abu Bakar (cek lagi) mengatakan ajari anakmu sastra agar ia belajar keberanian.

Keresahan, gagasan, ide dan pemikiran aku tangkap jelas dari launching kali ini. Turut hadir orang-orang yang kalau aku sengaja untuk bertemu, sulit sekali. Tapi disni dipertemukan oleh buku. Dibelakang (posisi dudukku di depan) ada Bg Aji (SBS Pontianak), Bg Oji (instruktur SBS), Bg Pay (author Sepok), Yogi (kawan SMA), Uti Fahrul Hakim (Sahabat Buku, Finalis Duta Baca) dan banyak lagi.

Ah aku jadi merasa canggung dan malu berada disini karena statusku sebagai Duta Baca menuntut lebih. Aku tak biasa sebenarnya dikenal seperti ini karena sifat introvert yang tampkanya masih bersemayam dalam diriku.

Oke, lupakan itu semua. he. He

baru aku masuk ke arena launching, puluhan puisi menyambutku di sisi kiri dan kanan pintu masuk.

Bg Pay kebagian sesi, menjelaskan soal puisi dan tanggapan soal buku ini:
Puisi itu menurut saya: ungkapan hati dan lebih personal, ungkapan hati yang membawa pesan orang lain, dan ungkapan hati yang membawa pesan orang banyak yang mengarah kepada perubahan yang mengugah perasaan.

Ernest Hemingwey, novelis klasik, bercerita soal sosial politik Amerika saat itu. Leo Tolstoy, penulis Rusia yang mengangkat ide sosialisme yang melawan ideologi kapitalisme saat itu.

Dan penyair-penyair  muslim di masa dinasti Abbasiyah, Ummayah yang ditenggelamkan.

Sastrawan-sastrawan barat hanya berhenti sampai pada visi dunia, mengubah dunia. Tapi penulis-penulis Islam jauh menembus batas dunia. Akhirat.

Dan ingat. Gagasan-gagasan kelak akan dimintai pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Dan karya-karya kita harus bisa menolong kita di hari Akhir kelak. ,,,

Menurut versi Mr. Yunsirno, sastra itu:
1. Berani
2. lembut
3. cinta

sastra itu milik manusia dan milik tuhan. Karena Rasul di beri Al-Qur’an di negeri Arab yang sudah lebih dulu jago bersyair.

Makin lama makin gelap, bukan hanyak langit tapi juga tenaga. Sengaja ku jaga pandangan ke Bg Pay. Niat hati pengen ambil kesempatan untuk bicara, tukar pendapat dan minta nasehat. Tapi apa daya. Ternyata bayangnya pun tak lagi ada ditempat.

he.he. Kok jadi gitu tulisannya ya. Ini efek puisi-puisi yang dibaca hari ini nih.

Aku akhiri catatan literasi ini dengan sorak sorai indah dalam dada.

Semoga semangat baca mennyebar luas bergema ke banyak insan. Gumamku dalam hati

Masjid Kapal Ampera, 17:45 WIB, 18 April 2017.

2 thoughts on “Menangkap Sajak: launching Buku Puisi Tentangku Naumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s