Resensi Buku Biografi Singkat Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer adalah nama sastrawan yang tidak asing ditelinga para pecinta sastra Indonesia. Pram, begitu banyak orang memanggilnya adalah tokoh sastrawan yang khatam merasa seluruh rezim kepemimpinan di nusantara ini. Mulai dari rezim penjajah Belanda, Jepang, fase awal kemerdekaan (orde lama), orde baru hingga rezim reformasi. Pram menutup perjalanan panjangnya tepat diumur 91 tahun pada tahun 2006 lalu.

“Aku benar-benar telah menjadi broodschrijver, seorang yang menulis untuk sesuap nasi…mesintulis, modal kerjaku, rasa-rasanya minta ampun…Berkali-kali bila telah larut malam mamahmu memperingatkan agar aku tidur. Tapi aku hampir-hampir tak dapat mengelakkan godaan mesin tulis”

hal 103

Masih segar dalam ingatanku nama Pramoedya Ananta Toer sepintas pernah kudengar. Ya. Aku pernah melihat salah satu romannya terpajang disebuah toko buku klasik di Pontianak. Tampak dari cover nya tak membuat hasrat membacaku naik. Tapi semua itu berubah saat aku tak sengaja menemukan buku biografi Pram ditumpukkan buku di Perpustakaan Sumber Ilmu Desa Sungai Keran (lagi KKN di desa, stok bacaan habis, syukur ada perpusdes Sumber Ilmu desa Sungai Keran.. 😀 ). Nama Pram lengkap dengan fotonya berhasil memaksa rasa penasaranku naik dan akhirnya buku biografi Pram ini aku pinjam. Kubawa kemanapun disela-sela program KKN.

***

“Sebuah karya sastra tidak muncul dari kondisi kekosongan, ia dapat menjadi gambaran kondisi suatu masyarakat dan bangsa. Namun, fakta atau keadaan yang ada di dalam karya sastra tidak dapat dijadikan landasan dalam penyusunan sejarah,…Disebabkan sastra adalah hasil dari dunia rekaan pengarang…” 

-Pengantar Penerbit, hal 5

***

Penulis membagi buku biografi singkat Pramoedya Ananta Toer dalam delapan bab, cukup singkat dan padat. Izinkan aku memberikan dua jempol untuk penulis karena tidak mudah merangkai sebuah biografi seorang Pram yang hidup 91 tahun hanya dalam delapan bab setebal 300 halaman !.

Penulis menelusuri dan menggambarkan ulang tentang kelahiran, perjuangan, pemikiran dan kematian seorang Pram. Didalam penelusuranya, kisah hidup pram tak hanya dihiasi ironi dan tragedi tetapi juga kontroversi. Kontroversi yang membuat namanya tak begitu dikenal di negeri sendiri – Indonesia. Coba saja cek, apa teman kau tau siapa Pram ? atau bahkan kau yang membaca tulisan ini baru saja tau seketika membaca resensi ini. Ah, inilah bukti nyata ketidak terkenalan sosok Pram. Namun hal ini berbanding terbalik dengan diluar negeri. Pram sangat dihargai dan apresiasi. Banyak sekali penghargaan yang ia dapat atas karya-karyanya baik fiksi (novel, cerpen) maupun non-fiksi. Bahkan Pram beberapa kali masuk nominasi Nobel Sastra dunia ! dimana tak ada satupun sastrawan yang pernah masuk nominasi pada saat itu.

“Ya, Ma, kita sudah melawan, Ma, biarpun hanya dengan mulut..” (Pram)

Buku ini sempat membuatku khawatir atas posisi keberpihakan penulis akan sosok Pram. Terutama disaat penulis membahas tentang bab keterlibatan Pram dengan Lekra (lembaga kebudayaan rakyat) – sayap PKI dibidang kebudayaan dan penentangan Manikebu (manifestasi kebudayaan) yang mucul sebagai reaksi protes akan Lekra. Aku khawatir apakah penulis memilih berada diposisi salah satu kubu, Lekra-dengan PKI nya atau Manikebu-dengan dukungan militernya. Waktu itu presiden Soekarno lebih memihak kaum PKI.

lekra-dan-geger-1965

Majalah Tempo yang khusus membahas Lekra

Sebetulnya aku tak begitu memahami bagaimana pergulatan sejarah PKI saat itu. Jadi aku tak berani bicara banyak tentang ini. Yang jelas saat itu terjadi pergulatan ideologi bangsa yang sangat amat. Tak hanya menyentuh politik praktis dengan kekuasaanya namun juga masuk ke sela-sela kebudayaan.

***

Terlepas dari kontroversi Pram dengan PKI-nya. Dia tetaplah sosok sastrawan yang tak bisa dilupakan begitu saja. Di penjara 14 tahun tanpa pengadilan selama rezim orde baru dan menjadi tahanan kota (wajib lapor) hingga masa reformasi tak membuat Pram tumpul. Justru ditengah – tengah keterbatasan itulah karya-karya Pram lahir. Sebut saja tetralogi pulau buru. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca lahir disaat Pram diasingkan di Pulau Buru, Maluku. Bermodalkan mesin ketik pinjaman Royal 440 ia menyelesaikan naskah empat roman yang bercerita tentang sejarah nasionalisme. Pram mengangkat tokoh Tirto Adhi Soerjo yang digambarkan sebagai tokoh Minke. Hingga kini terus dicetak bahkan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. – tak heran kalau Pram berkali-kali masuk nominasi nobel sastra dunia.

maket-pulau-buru

Pulau Buru, Maluku

Penulis menutup tulisannya dengan kesan dan pesan dari kisah hidup Pram yang penulis dapatkan. Seperti judul Belajar Mengarang dari Pram. Penulis menulis beberapa hikmah betapa pentingnnya mengarang dan menulis. Menulis dapat menjembatani kekurangan verbal dan juga ide dan gagasan kita dapat disampaikan kebanyak orang. Tak peduli kita kenal atau tidak dan abadi tentunya.

***

Sebenarnya ada banyak hal yang belum aku tuliskan di resensi ini, tapi terpaksa aku cukupkan karena ini resensi. Khawatir ada spoiler. Baca sendiri ya… 😀


Editor: Rose Kusumaningratri
Proofreader: Nur Hidayah
Desainer sampul: TriAT
Penata letak: Leelo Legowo
Penerbit: Garasi House of Books
Tahun: 2012
Rating: ratingratingratingrating

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s