Soekarno, Bung Hatta dan Jendral Sudirman, Tiga Tokoh Pahlawan yang Wajib Dibaca Kisah Hidupnya

Logo HUT RI Ke-71 Tahun 2016

Soekarno, Bung Hatta dan Jendral Sudirman adalah tiga tokoh pahlawan yang wajib kamu baca. Mereka adalah pahlawan  Indonesia dari sekian banyak tokoh pahlawan yang hidup dan matinya diperuntukkan meraih kemerdekaan Indonesia dari cengkraman penjajah Belanda dan Jepang.  Merdeka atau mati !!!. Semboyan yang memecut semangat juang merebut kemerdekaan. Merekan yakin bahwa kemerdekaan itu harus diperjuangkan, tak bisa ditunggu apalagi menunggu pemberian.

Jujur saja, aku adalah pembaca yang sangat suka dengan genre  biografi. Terlebih biografi – biografi tokoh terkenal dan berpengaruh baik yang masih hidup maupun yang telah tiada . Ketika membaca kisah mereka aku seperti hidup disaat mereka hidup, saling sapa dan bicara. Nilai –  nilai kehidupan dapat aku pelajari dan dapati dengan mudah dari tokoh – tokoh yang tak mungkin lagi duduk bersamaku (bagi yang telah tiada) dan mendengar cerita dan nasehat langsung darinya. Membaca biografi tokoh – tokoh pahlawan membantuku membayangkan betapa keras dan sulitnya hidup dizaman kolonialisme dan betapa cintanya mereka dengan ibu pertiwi ini dan tentu dengan anak cucu yang kelak akan mewarisi negeri yang mereka perjuangkan.Dalam rangka HUT RI ke-71 ini aku mau tunjukkan 3 tokoh pahlawan yang wajib kamu baca. Mereka adalah Soekarno, Bung Hatta, dan Jendral Sudirman. Mengapa harus Soekarno, Bung Hatta, dan Jendral Sudirman ?. Karena aku merasa tiga pahlawan ini memiliki cara berjuang mereka masing – masing dan itu meng-cover seluruh sektor perjuangan dan tentu tidak mengabaikan perjuangan – perjuangan pahlawan – pahlawan lain baik yang bernama maupun yang gugur tanpa indentitas.

Soekarno

Aku ingat betul. Waktu kelas 3 SMA buku biografi Soekarno setebal 425 halaman, hasil pinjaman perpustakaan daerah Kalbar. Judulnya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat berhasil aku baca. Cindy Adams, jurnalis asal Amerika Serikat dengan apik menceritakan kehidupan Soekarno mulai dari sebelum lahir hingga detik – detik kematiannya.  Lembar demi lembar yang kubaca seakan – akan sedang belajar mata pelajaran sejarah. Soekarno memberiku tambahan wawasan sejarah kepahlawanan Indonesia sebelum membaca buku – buku yang lain. Semua terangkum dalam biografi beliau. Ya, tak heran. Karena Soekarno adalah pelaku sejarah dan memang kita akui bahwa sejarah Indonesia pasti ada keterkaitannya dengan sosok Sang Proklamator ini.

Seingatku (mohon maaf, waktu itu aku belum jadi book blogger jadi buku yang udah aku baca tak pernah dibuatkan resensi 😀) dibuku terbitan Yayasan Bung Karno ini adalah edisi revisi. Penyempurnaan dari buku – buku sebelumnya dan mengoreksi satu paragraf tambahan yang seharusnya tak ada. Isinya adalah Soekarno berkata kalau ia tak butuh Bung Hatta disaat akan membacakan teks proklamasi. Satu paragraf yang benar-benar mengubah makna dan arti. Buku ini pertama kali diterbitkan dalam versi bahasa Inggris pada tahun 1965 dengan judul Soekarno: An Autobiography. Bahkan yang unik adalah permintaan Soekarno yang disampaikan oleh Yayasan Bung Karno bahwa Soekarno ingin namanya ditulis dengan Ejaan Yang Disempurnakan menjadi Sukarno.

Di buku ini juga terkuak alasan mengapa Soekarno “menjabat erat” tangan Jepang dengan menyediakan apa yang mereka mau termasuk mempromosikan Romusha dimana Soekarno yang menjadi foto model posternya.

bk-romusha

Soekarno Menjadi Model Propaganda Romusha

Sesungguhnya akulah –Sukarno– yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Degn para wartawan, juru potret, Gunseikan –Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”

-maaf aku lupa halamanya, ini dari sini

Sesaat setelah itu Soekarno dihujani kritik. Tapi itulah pemimpin. Harus berani mengambil keputusan apapun resikonya. Soekarno beralasan bahwa:

Dalam setiap perang ada korban. Tugas dari seorang Panglima adalah untuk memenangkan perang, sekalipun akan mengalami kekalahan dalam beberapa pertempuran di jalan. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan. Kita berada dalam suatu perjuangan untuk hidup….”

– masih dari sini.

Menurutku tak ada yang kurang dari buku ini, kisah demi kisah berjalan sangat indah dan mudah dipahami. Narasi sejarah Indonesia terasa lengkap. Mulai dari awal abad ke 20 hingga detik – detik kemerdekaan – jujur, waktu itu saya meneteskan air mata-.  Bahkan diteruskan hingga kisah agresi militer Belanda pasca kemerdekaan.

Bung Hatta

Bung Hatta. itulah nama akrabnya. Lahir di  Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pria berdarah minang ini memilik nama lengkap Mohammad Hatta. Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Bung Hatta menjadi akrab dibibirku. Aku belum pernah membaca kisah hidup Bung Hatta sebelumnya. Namun dari buku – buku biografi pahlawan lain seperti Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Soekarno nama Bung Hatta kerap kali disebut dan dikisahkan pula. Aku berhipotesis bahwa kisah hidup Bung Hatta penuh dengan kisah – kisah teladan. Kisah sepatu Bally yang tak terbeli adalah kisah yang sangat viral, dan itu adalah salah satu kisah hidupnya.

Bung Hatta hidup dalam kesederhanaan, jujur, teguh memegang prinsip dan selalu menepati janji. Salah satu janjinya adalah ia tidak akan menikah hingga Indonesia merdeka. 18 November 1945, tepat 3 bulan setelah teks proklamasi dibacakan akhirnya ia menepati janjinya. Bung Hatta menikahi bu Rahmi dengan mas kawin sebuah buku karangannya sendiri dengan judul “Alam Pikiran Yunani” sewaktu Bung Hatta ditahan Belanda di penjara Neira tahun 1930-an.

Tampaknya berdasarkan saran Goodreads, aku tertarik membaca buku Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman.

Jendral Sudirman

“Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit.” Pagi itu, 19 Desember 1948, Panglima Besar bangkit dan memutuskan memimpin pasukan keluar dari Yogyakarta, mengkonsolidasikan tentara, dan mempertahankan Republik dengan bergerilya.

Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah Soedirman menolak bujukan Sukarno untuk berdiam di Yogyakarta. Dengan separuh paru-paru, ia memimpin gerilya. Selama delapan bulan, dengan ditandu, ia keluar-masuk hutan.

Di medan gerilya, Panglima Besar dipercaya bisa bersembunyi dari kejaran Belanda. Mampu menyembuhkan orang sakit dan—konon—menjatuhkan pesawat terbang dengan meniupkan bubuk merica. Aktivis Hizbul Wathan, mantan guru, dan peletak dasar kultur TNI yang ironisnya dulu sempat berkata, ”Saya cacat, tak layak masuk tentara.” Dialah Soedirman: panglima, martir.

ini aku kutip dari Goodreads.

Aku tak bisa menulis banyak tentang sosok pahlawan yang satu ini. Karena belum satupun buku tentang Jendral Sudirman yang sudah kubaca. Mungkin hanya memoar – memoar pengalamanku yang berkaitan dengan Jendral Sudirman saja yang dapat kutuliskan dan menjadi bukti bahwa Jendral Sudirman adalah sosok yang besar.

Pertama, salah satu patung yang berdiri gagah di Jakarta adalah patung Jendral Sudirman yang dengan sigapnya dalam posisi hormat.

Kedua, Jendral Sudirman adalah bapaknya TNI Indonesia. Pintar dan penuh taktik namun agamis. Jendral Sudirman tercatat pernah mengaji (red: belajar Islam) di pengajian – pengajian Muhammadiyah dan Jendral Sudirman pernah mengecap pendidikan kepanduan disalah satu organisasi otonom Muhammadiyah-Hizbul Wathan.

Akhirnya, Soekarno, Bung Hatta dan Jendral Sudirman adalah tiga tokoh pahlawan yang wajib dibaca kisah hidupnya. Soekarno dan Bung Hatta berjuang melalu jalur diplomasi dan politik dan Jendral Sudirman berjuang melalui jalur militer. Bergerilya di hutan – hutan guna menumpas para penjajah.

17 Agustus 2016 // 16:18 WIB // Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang
Advertisements

3 thoughts on “Soekarno, Bung Hatta dan Jendral Sudirman, Tiga Tokoh Pahlawan yang Wajib Dibaca Kisah Hidupnya

  1. Pingback: Memoar Kisah Pribadi: Menjadi Book Blogger  | Katamahdi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s