Review Buku: SEPOK Tige Pay Jarrot Sujarwo

Cara orang sepok baca buku. :D

Cara orang sepok baca buku. 😀

Sepok (baca: se-pok). Kosa kata ini tak akan kau temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sepok hanya akan kau temukan didalam buku Pay Jarrot Sujarwo ini. Dalam bahasa Indonesia mungkin kata yang cocok untuk mengartikan kata sepok ini adalah rasa ingin tahu yang luar biasa, atau bahasa gaullnya kepo. Buku Sepok Tige ini adalah buku ketiga dari Sepok Series (Sepok Satu dan Duak). Kali ini bang Pay berhasil membuatku membeli buku ini, padahal dulu ketika buku Sepok Satu dan Duak launching aku tak tertarik membeli. Tapi kali ini luluh juga hati ini. Apa yang membuatku tertarik membeli buku Sepok Tige ?

Pertama, buku ini ditulis oleh penulis Kalbar, bangga rasanya membaca dan menikmati karya ‘saudara’ sendiri. Kedua, dari kata ke kata, kalimat ke kalimat, dan paragraf ke paragraf full menggunakan bahasa anak Metal (melayu kental). Seolah – olah penulis bercerita di depan mata dengan logat melayu Pontianak yang khas. Ketiga, tak sekedar catatan hasil melancong ke negeri orang, Bang Pay merangkai sebuah sejarah the golden age of Islam di bumi Spanyol dan Eropa yang mungkin akan terasa ‘garing’ dan membosankan jika ditulis dengan gaya buku-buku sejarah lainnya.

Terdapat 29 bab cerita. Diantaranya: Sepok Tige Dimulai, Dari Schipol Menuju Madrid, Titek Enol Madrid, Kantor Pos Tue, dan seterusnya. Membaca kata demi kata ditiap bab benar – benar membuat aku tekial -tekial (red: tertawa lepas). Ternyata bahasa melayu Pontianak yang biasa dipakai sehari – hari bisa juga dibuat tulisan. Bahkan masih ada kosakata – kosakata yang masih belum aku pahami, padahal sudah 20 tahun aku hidup di bumi melayu. Seperti “belambak lerak, betabo bia, tegal” . Ya wajar saja, kedua orang tua aku asli Minang, Sumatera Barat, bukan asli Pontianak. Bahasa Padang-Indonesia yang selalu kudengar dirumah. Bahasa melayu Pontianak aku dapatkan diluar rumah.

Bang Pay berhasil meracik cerita – cerita travellingnya di benua biru dengan bungkus lokalitas yang apik. Antara dokumenter perjalanan yang berusaha menggambarkan kepada pembaca betapa sepoknya dia serta kritik dan nasehat keislaman yang terasa menyatu. Beberapa bagian jelas menampakkan shock culture seperti dua seri buku Sepok sebelumnya. Menceritakan kesan yang ia rasakan dengan bingkai lokal yang khas. Seperti bab Sergio Roche Castro. Ini bukan nama tempat apalagi makanan. Ini nama orang. Tour Guide bang Pay selama di Spanyol. Sergio dan Pay Jarrot Sujarwo pertama kali bertemu di Pontianak lewat Bang Jul, pelukis keren Pontianak. Shock Culture di bab ini ada di halaman 32.

“…Karne lukisan – lukisan Bang Jul ni hamper rate nyritekan tentang Kalbar, secare tak langsong Bang Jul ni ikut jadi duta wisata Kalbar. Maklom, Dinas Pariwisata di tempat kite ni tadak bise bekerje maksimal, jadi kalok ade orang – orang barat datang, bukan-e pegi ke pusat inpormasi turis, tapi pegi ke tempat – tempat macam Bang Jul ni.”
– hal 32

Budaya birokrasi pemerintahan yang berbeda banyak menjadi sorotan Bang Pay di buku kali ini. Ndak hanya itu, budaya-budaya lokal yang tampaknya udah dianggap biasa di kritik dengan alasan yang cukup kuat dan tak terkesan menggurui.

“Cerite lalu lintas gituk gak. Di Belande (red: buku sepok duak), rase-e tak suah aku mandang orang – orang yang tak sabar. Entah ke die tu pakai sepeda, entah pakau motor, entah pakai oto, sedap rase mandang orang – orang tu di jalan raye. Rapi, teratur, tadak ade yang nyalep sembarangan….Cubelah kau bandengkan dengan tebiat budak – budak kampong kite. Yarabbana macam punye nyawe 33 butik jak mereke tu. Semaok atu makai jalan raye. Itu nyawe ke tasbih ?”
– hal 20-21

The Golden Age of Islam

Ini adalah kelebihan yang aku jumpai dibuku Sepok Tige ini, sadar atau tidak pembaca sedang membaca sejarah Eropa dan the golden age of Islam. Cerita yang rumit itu dibungkus dengan cerita – cerita jenaka ala budak melayu Kampung Arang. Sejarah Andalusia, Wak Thariq, Al Malik Zumbiy (pahlawan Islam di bumi Brasil yang dibunuh karakternya dengan cerita hantu Zombi) dan banyak lagi. Salah satunya yang paling aku ingat adalah sejarah lampu. Thomas Alfa Edison adalah penemu yang terkenal “mencerahkan” kegelapan malam didunia.
Tapi ternyata eh ternyata jauh sebelum Thomas Alfa Edison nemukan lampu, masyarakat di Cordoba, Spanyol sudah menikmati terangnya cahaya malam. Hanya saja buku-buku sejarah dunia menafikan dan sengaja meniadakan cerita ini. Sejarah yang diambil dan disebarluaskan hanya sejarah setelah Islam runtuh.
Cerita travelling yang riang dan santai perlahan mulai serius. Terhitung mulai dari bab 24: Ibnu Batutah dan Orang – orang Mude yang Balak-balak.

“Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Lawati Ath Thanji. Yarabbana, name ke name? Ngape bise panjang macam itu? Itulah balak-e orang dolok-dolok. Kite bise kenal keturunan-e sampai banyak generasi diatas-e…”
– hal 178

“…jadi kite balek agik ke Abu Abdullah Muhammad ni. Name beliau ade banyak versi. Salah satu versi-e, Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Batuttah. Atau yang dikenal dimane – mane, Ibnu Batutah…”
-hal 179

Total ada 16 bab cerita yang full sejarah dengan gaya tutur yang khas seperti bab-bab travelling sebelumnya. Awalnya agak susah memang menyambungkan antara cerita kesepok-an Bang Pay dengan segala macam nostalgianya dan budaya lokal serta shock culture-nya dengan cerita sejarah Islam di bumi Spanyol. Mungkin karena Bang Pay baru – baru ini mengubah gaya ceritanya yang bertabur nasehat – nasehat keislaman (dakwah). Sehingga terlihat kaku. Untung saja ada beberapa bab yang menceritakan tentang perkasanya Andalusia disaat masa kejayaan Islam di dunia. Andalusia menjadi jembatan penghubung antara cerita sepok ala Bang Pay dengan sejarah Islam.

Fakta-Fakta Unik

Dibalik pandainya Bang Pay merangkai cerita yang penuh sejarah ternyata ada beberapa fakta yang menurutku unik dan patut diabadikan diresensi kali ini. Pertama, Jaket Tebal Lelong. Coba perhatikan cover buku Sepok Tige ini, kau akan melihat jaket oranye tebal, dihiasi warna putih dan hitam. Tahukah kau, ternyata Bang Pay membeli jaket tebalnya ini di Lelong (red: pasar pakaian bekas impor) Kota Baru. Mantapkan ? jaket lelong itu dah melanglang buana ke negeri Eropa. Kedua, Indomie. Jauh – jauh melancong ke negeri Eropa ujung – ujungnya makan indomie juga. Indomie oh Indomie. Ketiga, Dulu kata sepok dipakai budak-budak (anak-anak) Pontianak untuk mengejek. Tak ada rasa bangga ketika kata sepok dilontarkan kawan kepadanya. Tapi ditangan Bang Pay kata sepok jadi terlihat keren dan kekinian. Bahkan bangga.

Kampung Arang VS Spanyol

Dari bab ke bab Bang Pay seringkali membanding – bandingkan antara keadaan Spanyol dengan kondisi yang ada di Pontianak khususnya Kampung Arang. Contohnya ketika Bang Pay membandingkan antara El Rastro (pasar loak di kota Madrid, Spanyol) dengan pasar loak yang ada di kota Pontianak.

“…Kok di Pontianak tu tempat-e lecah. Ape agek pas musim ujan. Yakla. Bau busuk-e ngambor. Jaohkan bale lah kau-e…”
– hal 138

Masih banyak lagi perbandingan – perbandingan yang dibuat oleh Bang Pay. Dari semua perbandingan yang ada, aku tak menemukan perbandingan yang optimis. Semuanya pesimis. aku memprediksi ini adalah cerminan emosi sang penulis yang ingin mengkritik keadaan yang ada. Bagi ku boleh – boleh saja. Tapi tidak dengan nada yang pesimis. Harusnya emosi ini dibungkus dengan nada optimis bahwa kelak Pontianak (Kampung Arang) akan setara dengan Spanyol dan bahkan melebihi. Menyebarkan pesan pesimis tidak akan menggerakkan pembaca untuk berubah.

Salam Sepok


Judul Buku : Sepok Tige! #Sepanyol #Andalusia
Penulis       : Pay Jarrot Sujarwo
Penerbit     : Pijar Publishing
Cetakan     : Pertama, Juli 2016
Tebal         : 283 Halaman
Harga        : Rp. 70.000,-
Advertisements

2 thoughts on “Review Buku: SEPOK Tige Pay Jarrot Sujarwo

  1. Terdapat 1 perubahan gaya bahasa dari buku Sepok dua versi sebelumnya. Memang jika sudah memiliki bakat untuk menulis cukup cepat melakukan penyesuaian. Ya semoga saja buku ini bisa menjadi salah satu ladang pahala bagi Bang Pay selaku penulisnya. Amin…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s