Dialog Pro-Hisab dan Anti Hisab Muhammadiyah

image

Paijo : Sep, kalau dah punya uang, kita naik haji yuk, tapi ke Mekkahnya naik unta.

Asep: Jo, jangan becanda ah, pergi ke Mekkah ya pakai Pesawat lah, kalau dah sampai di Jeddah, ke Mekkahnya naik bis atau kereta, masak naik unta.

Paijo : Hehe.. kita harus mengamalkan sunnah bro, emangnya pernah nabi naik pesawat, bis atau kereta api? Nabi dan para sahabat kalau gak naik kuda ya naik unta.

Asep : Yaelah Jo, ya itu kan di zaman nabi, emang belum ada alat transportasi modern. Zaman sekarang teknologi dah maju ngapain kembali ke zaman nabi?

Paijo : Eh sep, jadi kamu ngerasa lebih pinter dari nabi? Ingat zaman nabi itu sebaik-baik zaman, naik unta itu pasti lebih barokah daripada naik pesawat. Setidaknya kita dapat pahala karena ikut sunnah nabi.

Asep : Barokah sih barokah, tapi gak gitu juga kali jo. Seandainya nabi hidup di zaman ini dan diturunkan di Indonesia, pasti nabi juga ke Mekkah naik pesawat Jo, bukan naik unta.Lagian kalau beneran pakai unta, saya jamin sebelum sampai mekkah kamu dah wafat duluan. haha.. Jadi ya intinya unta itu wasilah bukan ghayah jo, saat ada wasilah yang lebih maju ya gak apa-apa berubah.

Paijo : Penjelasanmu masuk akal, saya jadi tercerahkan.. hehe.. Ngomong2 lebaran kapan nih? Ikut mazhab hisab atau rukyat?

Asep : Aku dari dulu ikut mazhab hisab jo, bagiku rukyat untuk mengetahui awal bulan sama dengan unta untuk pergi ke haji. Rukyat itu wasilah, bukan ghayah, dan rukyat itu sifatnya taaquli, bukan taabudi.

Paijo : Apaan tuh taaquli dan taabudi? Istilahmu wis canggih sep.

Asep: Taaquli itu adalah sesuatu yang masih boleh masuk nalar ke dalamnya, misalnya soal sains dan teknologi. Sementara taabbudi itu berkaitan dengan ritual dimana nalar berhenti, misalnya ritual wudhu dan shalat. Nah, ibadah puasa Ramadhan itu taabbudi, namun cara penentuan awal dan akhir Ramadhan itu taaquli. Karena ibadah puasa taabbudi, maka dari zaman Rasul sampai sekarang ya tetap sama. Sementara cara penentuan waktunya boleh berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Paijo : Oh, jadi kalau zaman Rasul penentuan awal Ramadhan dengan rukyat, sekarang boleh pakai hisab ya? Atau malah rukyat sudah tidak relevan untuk digunakan?

Asep : Nah, pinter kamu sep. Ibarat yang tadi, kalau sudah ada pesawat atau bis, kenapa harus masih tetap mempertahankan unta?

Paijo : Hhm.. masalahnya mayoritas di kita masih tetap mempertahankan rukyat, dan fatwa ulama juga hampir semua mengharuskan rukyat, pendapatmu asing sep.

Asep : Loh, bagus donk, kan kata Rasul Islam itu kan akan muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing. Ya asyik donk jadi orang asing, hehe..

Paijo : Hhm.. terus kamu menyalahkan yang rukyat gitu?

Asep : Sebenarnya nggak juga, saya hanya menyatakan pendirian saya yang pro hisab dan mengkritik rukyat. Namun saya tetap menghargai pendapat yang berbeda, karena ini masalah fiqh. Dan masalah fiqh ini dari zaman nabi sampai sekarang emang ga pernah sama.

Paijo : Contohnya?

Asep : Dulu zaman nabi kan pernah ada dua sahabat yang pergi ke kampung bani quraizhah. Nabi menyuruh mereka berdua agar jangan shalat ashar di Bani Quraizah. Ternyata waktu ashar dah mau habis, maka sahabat yang satu shalat ashar walau belum sampai bani quraizhah, sahabat yang satunya tetap shalat ashar di Bani Quraizhah walau bukan waktu ashar lagi.

Paijo : Terus?

Asep : Nah, mereka berdua kan ngadu sama nabi, ya nabi membenarkan keduanya, karena nabi tahu bahwa dua-duanya niatnya ingin mengikuti nabi, hanya beda pemahaman.

Paijo : Bukannya ijtihad itu kalau benar dapat pahala banyak, dan kalau salah dapat dua pahala ya?

Asep : Nah itu kamu tahu, kalau ini sabda nabi dalam kasus dua orang sahabat yang tayamum, setelah shalat ternyata ada air, yang satu shalat lagi yang satu nggak.

Paijo : Baru tahu, ternyata para sahabatpun sudah berikhtilaf ya. Berarti soal fiqh memang jangan mutlak2an ya.

Asep : Iya jo, memang jangan mutlak-mutlakan dalan soal fiqh. Namun kita harus punya pendirian dan yakin dengan pendirian itu, karena ibadah tanpa keyakinan itu nonsens. Dan pendirian saya adalah bahwa rukyat sudah tidak lagi relevan digunakan dalam penentuan waktu ibadah.

Paijo : Tapi kan ada haditsnya, shuumuu li rukyatihi wa afthiruu li rukyatihi

Asep : Waduh, panjang jo kalau mau dipaparkan soal hadits itu. Tapi untung ya Rasulullah ga pernah bersabda berhajilah dengan unta. Jangan-jangan kalau ada hadits begitu, kita semua beneran pada naik unta ke mekkahnya…

disalin dari : sangpencerah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s