Resensi Sabtu Sore : Sukses Bermuhammadiyah

sukses bermuh

Pontianak – baiklah, kali ini saya akan meresensi satu buku yang bagi saya lain dari buku – buku kemuhammadiyahan yang lain. Sama seperti buku sebelumnya yang pernah saya baca : Gerakan Pengajian Muhammadiyah yang ditulis oleh penulis yang sama : dr. H. Agus Sukaca, M.Kes (ketua PWM Kalimantan Timur 2005 – 2010). Bahasa yang halus dan seolah – olah penulis berbicara langsung  membuat kesan khas disetiap tulisan beliau.

Sebelum saya masuk ke resensi, saya jadi teringat ketika bulan Februari 2015 lalu saya pernah menghadiri pertemuan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se – Kalimantan di STIK Muhammadiyah Pontianak. Dan seingat saya perwakilan Kalimantan Timur hadir dan mungkin juga ayahanda Agus Sukaca hadir, tapi sayanganya saya tak sadar akan hal itu. -_- . apa karna saya ketika itu belum baca buku – buku beliau ya ?, #ahsudahlah

Judul yang diangkat penulis membuat saya sulit membedakan antara buku motivasi keislaman dengan buku bisnis yang memang sering saya baca. Kalimat “Sukses Bermuhammadiyah” tentu tak jauh berbeda dengan “Sukses Berbisnis Online”.

Tapi hal ini berhasil membuat saya penasaran sebenarnya apa isinya, sejenak saya balik buku ini dan mulai menyusuri kata demi kata berbentuk sinopsis buku ini dan akhirnya kesulitan saya diawal hilang dan semakin yakin kalau ini adalah buku motivasi berislam J. Biar anda juga jelas, ini saya lampirkan isi sinopsisnya:

“siapakah yang disebut sebagai orang yang sukses ber-Muhammadiyah ? barangkali terdapat banyak anggapan yang menilai bahwa orang yang sukses ber-Muhammadiyah adalah ketika mereka berhasil menepat posisi penting dalam Muhammadiyah. Dan sebalinya (red)…benarkah penilaian yang demikian ?

Buku ini merupakan sebuah bentuk jawaban dan pandangan tentang bagaimana yang disebut orang yang sukses dalam ber-Muhammadiyah. Dalam buku ini dijelaskan secara apik sebuah kesuksesan dalam ber-Muhammadiyah tidak hanya disandang oleh Pimpinan atau tokoh – tokoh Muhammadiyah, melainkan juga bisa disandang oleh setiap anggota Muhammadiyah dimanapun mereka berada, selama mereka mampu menjalankan perannya sebagai kader Muhammadiyah dengan penuh keikhlasan dan sungguh – sungguh.

Jadi ukuran kesuksesan dalam kesuksesan dalam ber-Muhammadiyah tidak bisa dilihat semata – mata dari seberapa tinggi jabatan yang berhasil diduduki dalam Muhammadiyah, akan tetapi dinilai dari seberapa tinggi pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam diri dan keluarganya, serta bagaimana perannya dalam menyebarluaskan ajaran Islam kepada masyarakat luas.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita termasuk golongan ini ?…”

Penulis dengan bijak mengingatkan para pimpinan (kader yang diberi amanah), anggota dan simpatisan persyarikatan akan makna ber-Muhammadiyah ditengah – tengah tumbuh pesatnya amal usaha Muhammadiyah yang mengindikasikan perubahan persepsi ber-Muhammadiyah. Yang tadinya seberapa tinggi pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam diri dan keluarganya, serta bagaimana perannya dalam menyebarluaskan ajaran Islam kepada masyarakat luas menjadi seberapa tinggi jabatan (ketua, kepala sekolah, rektor, direktur, dll) yang di amanahkan Muhammadiyah kepadanya.

Penulis mengawali bagian pertama dengan sebuah pertanyaan: Untuk apa ber-Muhammadiyah ?. “sesungguhnya setiap perbuatan itu dengan niat, san setiap perbuatan bernilai sesuai dengan yang diniatkannya”. Berdasarkan tujuan, ada 3 golongan orang dalam ber-Muhammadiyah: (1) tujuannya selaras dengan tujuan Muhammadiyah, (2) tujuannya tidak selaras dengan tujuan Muhammadiyah, dan (3) tak punya tujuan yang jelas. Maksud dari golongan pertama itu adalah mereka yang menjadikan Muhammadiyah sebagai sarana untuk mewujudkan pribadi dan keluarganya menjadi muslim yang sebenar – benarnya dan menjadikan Muhammadiyah sebaga sarana perjuangan dalam menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam hingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar – benarnya. Apakah kita termasuk yang ini ? semoga saja ya, karna hanya golongan ini lah yang niatnya lurus dan benar.

Penulis melanjutkan dengan penyelarasan tujuan Muhammadiyah kepada setiap diri anggota Muhammadiyah. Mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar – benarnya harus menjadi tujuan bersama setiap anggota. Dimulai dari mewujudkan pribadi muslim yang sebenar – benarnya, keluarga Islam yang sebenar – benarnya dan hingga bermuara pada masyarakat Islam yang sebenar – benarnya. Kalau tak dimulai dari diri sendiri (ibda’ binafsika) maka akan sulit mencapai tujuan besar Muhammadiyah.

Setelah tujuan selaras maka misi pribadi juga harus selaras dengan misi Muhammadiyah: (1) menegakan keyakinan tauhid yang murni, (2) menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan (3) mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Dibagian selanjutnya, saya merasa bingung karna tiba-tiba pembahasan beralih ke filosofi wudhu. Sepintas apa hubungannya coba antara bahasan wudhu dengan sukses ber-Muhammadiyah ?. tapi kebingungan itu terjawab ketika mata ini tuntas menjamah semua kata pada bahasan ini. Ternyata prosesi wudhu punya makna simbolik yang sangat luar biasa untuk mempersiapkan diri untuk “hijrah” menjadi pribadi muslim yang sebenar – benarnya karna kita harus menyucikan pikiran dari masukan informasi negatif dari mata dan telinga. Berkumur, membasuh kaki dan tangan dan mengusap kepala bermaksud menyucikan semuanya dari dosa yang telah diperbuat karnanya.

Dan satu hal yang tak terduga dari buku ini adalah pada bagian akhir penulis menambahkan bahasan Membangun Kebiasaan. Masyarakat Islam yang sebenar – benarnya akan lahir dari keluarga muslim yang sebenar – benarnya dan keluarga muslim itu tentu dibentuk oleh pribadi – pribadi muslim yang sebenar – benarnya. Kebiasaan yang baik akan melahirkan pribadi – pribadi yang baik pula.

“Muhammadiyah adalah kendaraan untu mengantarkan ummat Islam ke gerbang surga, artinya, Muhammadiyah cocok untuk mereka yang tujuan akhirnya menjadi penghuni surga. Bagi anda yang hanya memiliki tujuan prgamatis atau jangka pendek yang bersifat duniawi saja, Muhammadiyah tidak cocok untuk anda.” Kalimat dibagan akhir ini cukup membuat saya tertegun.

Selesai membaca buku ini membuat fikiran saya terbuka luas dan merasa malu dan cukup tersindir karna tak semua yang disyaratkan sudah saya lakukan.

Namun, ada satu kekurangan dari buku Sukses Bermuhammadiyah karya ayahanda Agus Sukaca ini, Kurang tebal, ya kurang tebal. Hehe

Bagi anda yang belum baca buku ini, segera cari dan bacalah. Insyaallah cita – cita kita: terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar – benarnya akan tercapai. Yakinlah !

Salam fastabiqul khairat dari bumi khatulistiwa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s